(B. POV) Cahaya surya
menepis kesepian didalam ruang kecil nan putih ini. Saat ini kedua mata gue
perlahan membuka. Beradu dengan terik cahayanya. Gue memiringkan kepala gue
kesamping. Mama. Wanita tercantik didunia bagi gue. Mama bangun saat gue
mengelus kepalanya. Diwajahnya terbersit keharuan.
“Kamu udah bangun
sayang? Puji Tuhan, akhirnya kamu siuman. Kamu tunggu ya, mama panggilin
dokter.”
“Iya ma.” Gue hanya
merekahkan senyum di bibir gue yang pucat dan kering.
Beberapa saat setelah
itu, seorang dokter datang. Dia memeriksa keadaan gue dan bilang besok gue udah
boleh pulang dengan satu syarat untuk bedrest 3 hari. Gue senang. Tapi dimana
Debora?
“Ma, Debora mana?”
“Gak ada sayang. Waktu
itu Debora dateng tapi besoknya dia udah gak pernah dateng lagi sampai hari
ini. Katanya, mamanya Debora sakit.” Gue hanya mengangguk dengan rasa kangen
yang begitu mendalam. Gue kangen senyum Debora. Setelah waktu itu gue putusin
dia, gue gak pernah lihat senyumnya lagi.
Hari ini gue dapet
kabar dari Diana, kalau Debora udah balik ke Jakarta. Gue segera siap-siap dan
keluar dari kamar gue.
“Mau kemana? Kan kamu
masih dalam masa bedrest.”
“Udah enakkan kok.
Brandon harus ke rumah Debora sekarang, Ma.”
“Tapi harus 3 hari.
Pokoknya kamu harus tidur.” Mama mendorong gue masuk kembali kekamar. Gue
bingung harus ngapain. Gue bener-bener harus ketemu Debora sekarang dan baikan
sama dia. Gue melirik ke arah jendela. Gue punya ide! (Kalau di kartun-kartun
bakal muncul bohlam dikepala. WKWK)
Dengan nekat gue keluar
lewat jendela. Sebelumnya gue ngunciin kamar gue dulu biar gak ketahuan.
Gue udah sampai dirumah
Debora, tapi kata tetangganya, Debora ke taman mini tempat dimana dulu gue
pernah siapin dinner romantis buat dia.
Akhirnya gue kesana.
Disana, gue mendapati
Debora sedang duduk di kursi taman. Gue dateng dari belakang dan melingkarkan
lengan gue ke lehernya. Ditangan gue tersemat setangkai mawar untuk Debora. Dia
membalikkan tubuhnya dan melihat gue ada disini. Dia mengambil mawar yang gue
kasih dan bangkit dari kursi.
“Gue kangen sama lo,
Deb.” Gue menghapus genangan air yang tumpah dari kedua matanya yang indah. Dia
tidak berkata-kata apa-apa. Dia memeluk gue dengan erat.
(D. POV) Gue sangat
bahagia. Dia udah sembuh sekarang. Dia udah kembali lagi. “Gue lebih kangen
sama lo. Maafin gue udah sempet bikin lo kecewa. Gue sadar yang gue sayang itu
lo. Bukan yang lain.” Dia membiarkan gue menangis di dada bidangnya. Sekarang
gue bener-bener ngerasa seperti membuka lembaran baru. Gue merasa kembali jatuh
cinta, bukan ke Geano tapi ke Brandon Nicholas, orang yang ada dihadapan gue
sekarang.
(Author POV) Tidak
berapa lama, hujan pun turun membasahi permukaan bumi. Disini, ditengah-tengah
taman, mereka kembali. Mereka bersama lagi. Walaupun berbagai konflik
menghampiri, percayalah cinta tidak akan lari kemanapun. Cinta selalu ada
disetiap lintasan dibumi ini. Jadi kemanapun perginya dirimu, kamu akan tetap
berjumpa kembali dengan cintamu.
Ditengah nirai hujan yang membasahi
bumi.
Mereka ada disana.
Berselimut kedinginan yang melanda.
Sunset seakan enggan menunjukan
diri.
Hingga malam tersirat di langit.
Bintang dan bulan kembali bersama.
Beradu pandang dan berbagi cerita.
Melepas rindu yang mengerat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar