Minggu, 26 Oktober 2014

Almost (2)



(D. POV) Gue nyesel pernah berpikiran buat manfaatin dia cuma buat deketin Geano. Sekarang gue udah putus sama orang yang ternyata sayang banget sama gue dan gue pun sayang sama dia. Padahal hari ini adalah 1st anniversary gue sama dia. Gue bener-bener gak nyangka, Gira sejahat itu bocorin semua rahasia dan hancurin semua kepercayaan gue. Gue rasa, hari ini adalah hari terburuk yang pernah gue miliki!
            Gue sengaja dateng ke taman itu. Disana air mata gue tumpah melihat apa aja yang dipersiapin sama dia. Meja kecil berbalut kain putih dan ditengah meja itu ada setangkai bunga mawar bertempat disudut taman. Disekeliling meja itu, berdiri beberapa lilin dan kelopak mawarlah yang memenuhi rerumputan taman tersebut. Gue melangkah ke dekat meja itu. Gue duduk disalah satu kursi yang ada. Diatas kursi itu gue mendapati sebuah kotak kecil dengan surat diatasnya. Gue membaca surat itu. Dan terulang lagi, air mata ini tak kunjung menahan rasa tuk tumpah.
Aku tidak pernah berkeinginan untuk menyakitimu.
Tapi sepertinya, akulah yang tersakiti saat ini.
Aku berusaha untuk tidak marah padamu, tapi sesungguhnya saat itu pikiran ku sangatlah berkecamuk.
Aku tidak menghancurkan janji ku malam ini untukmu.
Aku membiarkan semua yang telah kusiapkan tetap ada.
Karena aku yakin kamu akan datang.
Tapi sepertinya kali ini bintang tidak bisa menemani bulannya.
Aku tidak bisa ada disana menemanimu sedangkan hatiku masih merasakan kesakitan.
Maafkan aku tidak ada dimalam yang seharusnya cuma milik kamu dan aku.
 Aku akan pergi.
Tapi percayalah, rasa sayang ini kan belum bisa terhapuskan hanya karna kepergianku.
Gue memandang langit. Dan bener apa yang dikatakannya. Malam ini para bintang tidak hadir disini. Yang gue dapatkan hanya bulan seorang diri. Gue membuka kotak kecil yang gue temukan tadi. Ternyata sebuah kotak musik. Dia tau gue sangat menyukai musik. Gue mendengar alunan melodi yang tersirat dari kotak kecil ini. Tiba-tiba gue sadar lalu kembali melihat surat darinya tadi. Gue membaca ulang dua kalimat terakhir, gue tertegun sesaat lalu mengambil kotak musik dan surat itu serta berlari ke depan Cafè Brightos. Gue terus melambaikan tangan berharap diantara banyaknya taksi yang lewat, akan ada satu taksi yang berhenti dihadapan gue. Ternyata yang gue harapkan tidak terjadi. Gue langsung melirik ke sebuah sepeda yang ditinggalkan pemiliknya entah kemana. Gue berusaha untuk cepat sampai kerumahnya dengan sepeda ini.
Tok tok tok. Gue mengetuk pintu rumahnya. Yang keluar Bi Srih, pembantu dirumahnya. Seperti yang gue lihat, kayaknya dia dan keluarganya gak ada dirumah ini, dan gue coba nanya ke Bi Srih.
“Non gak tau ya? Aden kecelakaan mobil non. Waktu mau ke Bogor,” Bi Srih menjelaskan semuanya dan gue bener-bener gak percaya.
“Bener Bi? Bi Srih jangan bohong ya, Bi.”
“Iya non. Aduh, ngapain sih Bibi bohong.”
“Rumah sakitnya dimana Bi?” air mata gue mulai tumpah. Hati gue tersayat. Kaki gue sepertinya gak sabar buat nunggu jawaban Bi Srih.
“Denger-denger, RS. Prudential di Jaksel non.”
“Yaudah makasih ya, Bi.”
Gue segera memberhentikan taksi yang lewat. Didalam taksi inilah gue menumpahkan seluruh air mata dari kedua manik gue yang mengalir dengan derasnya. Gue bener-bener gak mau kehilangan dia. Dia berarti buat gue. Gue sayang sama dia. Sekarang gue hanya bisa berharap banyak supaya dia gak kenapa-kenapa.
Gue sampai di rumah sakit. Gue segera menanyakan keberadaan nya sekarang pada para petugas rumah sakit. Hingga gue menemukan sebuah pintu kaca bertuliskan ICU. Gue menumpahkan segala ketakutan dan segala kesedihan gue didepan pintu itu. Menatapnya yang sedang tak berdaya dan memperjuangkan hidupnya. Seorang wanita menepuk pundak gue, gue berbalik dan menemukan mamanya yang sedang menangis.
“Tante, kenapa Brandon bisa separah ini, Tan?”
“Brandon mengalami kecelakaan sayang.”
“Tante, ini salah Debora. Debora yang buat Brandon pergi. Kalo Brandon gak pergi, gak mungkin dia jadi kayak gini.”
“Ini bukan salah kamu. Ini takdir. Takdir yang membuat semua ini terjadi.” Gue memeluk Tante Rena dengan erat. Hingga seorang dokter pun keluar dari ruangan ICU.
“Apa ada perkembangan dengan anak saya, Dok?” tanya Tante Rena.
“Sejauh ini belum ada perkembangan, Bu. Malah tambah parah. Brandon membutuhkan donoran darah untuk otaknya. Apakah disini ada yang bergolongan darah AB?”
Wajah Tante Rena berubah. Sepertinya dia bukanlah pemilik golongan darah AB. “Saya, Dok, saya AB.” Gue segera pergi ke laboratorium bersama dokter itu untuk melakukan pengecekkan. Setelah dicek, gue bisa donorin darah gue buat Brandon.
            Sekarang gue berada dalam satu ruangan dengan Brandon. Gue memandang wajah pucatnya. Gue nangis lagi ngelihat keadaannya saat ini. Apalagi semua itu karna gue. Gue janji bakal donorin darah gue sebanyak apapun, walaupun harus merenggut nyawa gue pun gue rela. Gue terlalu sayang sama dia sekarang. Gue gak ingin kehilangan dia.
Ya Tuhan.
Seandainya kesempatan itu ada.
Seandainya keajaiban itu ada.
Jangan biarkan dia pergi, jangan biarkan dia hilang.
Meninggalkanku.
Sekalipun nyawaku harus ditaruhkan baginya.
Aku rela. Bahkan sangat rela.
Biarkan malam ini,
Menjadi malam dimana bulan akan menyelamatkan bintangnya.
Bintang yang sedari tadi hilang entah kemana.
Biarkan bulan dan bintang kembali hidup bersama.
Dibawah naungan dinginnya langit malam.
Gue selesai donorin darah gue buat Brandon. Gue pun diijinkan masuk ke ruang ICU. Gue menggenggam tangan Brandon dengan erat, menangis hingga terlelap disana.
(B. POV) Perlahan kedua mata gue membuka. Semuanya putih disini. Gue mendapati seorang cewek tertidur disamping gue. Gue mengangkat wajahnya dengan pelan. Debora. Tetapi, sedetik kemudian, semuanya menjadi gelap.
(Author POV) Tante Rena masuk kedalam ruangan ICU atas izin dokter. Dia membangunkan Debora dan menyuruh pulang.
“Debora, bangun sayang. Kamu pulang ya, ini udah malem lho.”
“Eh, Tante. Yaudah, Debora pulang dulu ya. Besok Debora janji bakal dateng lagi.”
“Iya, makasih ya, Deb.”


Besoknya bahkan beberapa hari setelah itu, Debora tidak datang lagi. Tapi semua ini memiliki alasan. Mamanya di Tanggerang mendadak sakit. Kebetulan sekolah diliburkan selama 2 minggu karena ada perenovasian sekolah, jadi untuk satu minggu kedepan, dia akan tinggal di Tanggerang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar