(D. POV) Gue nyesel pernah berpikiran buat manfaatin
dia cuma buat deketin Geano. Sekarang gue udah putus sama orang yang ternyata
sayang banget sama gue dan gue pun sayang sama dia. Padahal hari ini adalah 1st
anniversary gue sama dia. Gue bener-bener gak nyangka, Gira sejahat itu bocorin
semua rahasia dan hancurin semua kepercayaan gue. Gue rasa, hari ini adalah
hari terburuk yang pernah gue miliki!
Gue
sengaja dateng ke taman itu. Disana air mata gue tumpah melihat apa aja yang
dipersiapin sama dia. Meja kecil berbalut kain putih dan ditengah meja itu ada
setangkai bunga mawar bertempat disudut taman. Disekeliling meja itu, berdiri
beberapa lilin dan kelopak mawarlah yang memenuhi rerumputan taman tersebut. Gue
melangkah ke dekat meja itu. Gue duduk disalah satu kursi yang ada. Diatas
kursi itu gue mendapati sebuah kotak kecil dengan surat diatasnya. Gue membaca
surat itu. Dan terulang lagi, air mata ini tak kunjung menahan rasa tuk tumpah.
Aku
tidak pernah berkeinginan untuk menyakitimu.
Tapi
sepertinya, akulah yang tersakiti saat ini.
Aku
berusaha untuk tidak marah padamu, tapi sesungguhnya saat itu pikiran ku
sangatlah berkecamuk.
Aku
tidak menghancurkan janji ku malam ini untukmu.
Aku
membiarkan semua yang telah kusiapkan tetap ada.
Karena
aku yakin kamu akan datang.
Tapi
sepertinya kali ini bintang tidak bisa menemani bulannya.
Aku
tidak bisa ada disana menemanimu sedangkan hatiku masih merasakan kesakitan.
Maafkan
aku tidak ada dimalam yang seharusnya cuma milik kamu dan aku.
Aku akan pergi.
Tapi
percayalah, rasa sayang ini kan belum bisa terhapuskan hanya karna kepergianku.
Gue memandang langit.
Dan bener apa yang dikatakannya. Malam ini para bintang tidak hadir disini.
Yang gue dapatkan hanya bulan seorang diri. Gue membuka kotak kecil yang gue
temukan tadi. Ternyata sebuah kotak musik. Dia tau gue sangat menyukai musik.
Gue mendengar alunan melodi yang tersirat dari kotak kecil ini. Tiba-tiba gue
sadar lalu kembali melihat surat darinya tadi. Gue membaca ulang dua kalimat
terakhir, gue tertegun sesaat lalu mengambil kotak musik dan surat itu serta
berlari ke depan Cafè Brightos. Gue terus melambaikan tangan berharap diantara
banyaknya taksi yang lewat, akan ada satu taksi yang berhenti dihadapan gue.
Ternyata yang gue harapkan tidak terjadi. Gue langsung melirik ke sebuah sepeda
yang ditinggalkan pemiliknya entah kemana. Gue berusaha untuk cepat sampai
kerumahnya dengan sepeda ini.
Tok tok tok. Gue
mengetuk pintu rumahnya. Yang keluar Bi Srih, pembantu dirumahnya. Seperti yang
gue lihat, kayaknya dia dan keluarganya gak ada dirumah ini, dan gue coba nanya
ke Bi Srih.
“Non gak tau ya? Aden
kecelakaan mobil non. Waktu mau ke Bogor,” Bi Srih menjelaskan semuanya dan gue
bener-bener gak percaya.
“Bener Bi? Bi Srih
jangan bohong ya, Bi.”
“Iya non. Aduh, ngapain
sih Bibi bohong.”
“Rumah sakitnya dimana
Bi?” air mata gue mulai tumpah. Hati gue tersayat. Kaki gue sepertinya gak
sabar buat nunggu jawaban Bi Srih.
“Denger-denger, RS.
Prudential di Jaksel non.”
“Yaudah makasih ya,
Bi.”
Gue segera
memberhentikan taksi yang lewat. Didalam taksi inilah gue menumpahkan seluruh
air mata dari kedua manik gue yang mengalir dengan derasnya. Gue bener-bener
gak mau kehilangan dia. Dia berarti buat gue. Gue sayang sama dia. Sekarang gue
hanya bisa berharap banyak supaya dia gak kenapa-kenapa.
Gue sampai di rumah
sakit. Gue segera menanyakan keberadaan nya sekarang pada para petugas rumah
sakit. Hingga gue menemukan sebuah pintu kaca bertuliskan ICU. Gue menumpahkan
segala ketakutan dan segala kesedihan gue didepan pintu itu. Menatapnya yang
sedang tak berdaya dan memperjuangkan hidupnya. Seorang wanita menepuk pundak
gue, gue berbalik dan menemukan mamanya yang sedang menangis.
“Tante, kenapa Brandon
bisa separah ini, Tan?”
“Brandon mengalami kecelakaan
sayang.”
“Tante, ini salah
Debora. Debora yang buat Brandon pergi. Kalo Brandon gak pergi, gak mungkin dia
jadi kayak gini.”
“Ini bukan salah kamu.
Ini takdir. Takdir yang membuat semua ini terjadi.” Gue memeluk Tante Rena
dengan erat. Hingga seorang dokter pun keluar dari ruangan ICU.
“Apa ada perkembangan
dengan anak saya, Dok?” tanya Tante Rena.
“Sejauh ini belum ada
perkembangan, Bu. Malah tambah parah. Brandon membutuhkan donoran darah untuk
otaknya. Apakah disini ada yang bergolongan darah AB?”
Wajah Tante Rena
berubah. Sepertinya dia bukanlah pemilik golongan darah AB. “Saya, Dok, saya
AB.” Gue segera pergi ke laboratorium bersama dokter itu untuk melakukan
pengecekkan. Setelah dicek, gue bisa donorin darah gue buat Brandon.
Sekarang
gue berada dalam satu ruangan dengan Brandon. Gue memandang wajah pucatnya. Gue
nangis lagi ngelihat keadaannya saat ini. Apalagi semua itu karna gue. Gue
janji bakal donorin darah gue sebanyak apapun, walaupun harus merenggut nyawa
gue pun gue rela. Gue terlalu sayang sama dia sekarang. Gue gak ingin
kehilangan dia.
Ya Tuhan.
Seandainya kesempatan itu ada.
Seandainya keajaiban itu ada.
Jangan biarkan dia pergi, jangan
biarkan dia hilang.
Meninggalkanku.
Sekalipun nyawaku harus ditaruhkan
baginya.
Aku rela. Bahkan sangat rela.
Biarkan malam ini,
Menjadi malam dimana bulan akan
menyelamatkan bintangnya.
Bintang yang sedari tadi hilang
entah kemana.
Biarkan bulan dan bintang kembali
hidup bersama.
Dibawah naungan dinginnya langit
malam.
Gue selesai donorin
darah gue buat Brandon. Gue pun diijinkan masuk ke ruang ICU. Gue menggenggam
tangan Brandon dengan erat, menangis hingga terlelap disana.
(B. POV) Perlahan kedua
mata gue membuka. Semuanya putih disini. Gue mendapati seorang cewek tertidur
disamping gue. Gue mengangkat wajahnya dengan pelan. Debora. Tetapi, sedetik
kemudian, semuanya menjadi gelap.
(Author POV) Tante Rena
masuk kedalam ruangan ICU atas izin dokter. Dia membangunkan Debora dan
menyuruh pulang.
“Debora, bangun sayang.
Kamu pulang ya, ini udah malem lho.”
“Eh, Tante. Yaudah,
Debora pulang dulu ya. Besok Debora janji bakal dateng lagi.”
“Iya, makasih ya, Deb.”
Besoknya bahkan
beberapa hari setelah itu, Debora tidak datang lagi. Tapi semua ini memiliki
alasan. Mamanya di Tanggerang mendadak sakit. Kebetulan sekolah diliburkan
selama 2 minggu karena ada perenovasian sekolah, jadi untuk satu minggu
kedepan, dia akan tinggal di Tanggerang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar