Minggu, 26 Oktober 2014

Almost (3 last)



(B. POV) Cahaya surya menepis kesepian didalam ruang kecil nan putih ini. Saat ini kedua mata gue perlahan membuka. Beradu dengan terik cahayanya. Gue memiringkan kepala gue kesamping. Mama. Wanita tercantik didunia bagi gue. Mama bangun saat gue mengelus kepalanya. Diwajahnya terbersit keharuan.
“Kamu udah bangun sayang? Puji Tuhan, akhirnya kamu siuman. Kamu tunggu ya, mama panggilin dokter.”
“Iya ma.” Gue hanya merekahkan senyum di bibir gue yang pucat dan kering.
Beberapa saat setelah itu, seorang dokter datang. Dia memeriksa keadaan gue dan bilang besok gue udah boleh pulang dengan satu syarat untuk bedrest 3 hari. Gue senang. Tapi dimana Debora?
“Ma, Debora mana?”
“Gak ada sayang. Waktu itu Debora dateng tapi besoknya dia udah gak pernah dateng lagi sampai hari ini. Katanya, mamanya Debora sakit.” Gue hanya mengangguk dengan rasa kangen yang begitu mendalam. Gue kangen senyum Debora. Setelah waktu itu gue putusin dia, gue gak pernah lihat senyumnya lagi.
Hari ini gue dapet kabar dari Diana, kalau Debora udah balik ke Jakarta. Gue segera siap-siap dan keluar dari kamar gue.
“Mau kemana? Kan kamu masih dalam masa bedrest.”
“Udah enakkan kok. Brandon harus ke rumah Debora sekarang, Ma.”
“Tapi harus 3 hari. Pokoknya kamu harus tidur.” Mama mendorong gue masuk kembali kekamar. Gue bingung harus ngapain. Gue bener-bener harus ketemu Debora sekarang dan baikan sama dia. Gue melirik ke arah jendela. Gue punya ide! (Kalau di kartun-kartun bakal muncul bohlam dikepala. WKWK)
Dengan nekat gue keluar lewat jendela. Sebelumnya gue ngunciin kamar gue dulu biar gak ketahuan.
Gue udah sampai dirumah Debora, tapi kata tetangganya, Debora ke taman mini tempat dimana dulu gue pernah siapin dinner romantis buat dia.  Akhirnya gue kesana.
Disana, gue mendapati Debora sedang duduk di kursi taman. Gue dateng dari belakang dan melingkarkan lengan gue ke lehernya. Ditangan gue tersemat setangkai mawar untuk Debora. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat gue ada disini. Dia mengambil mawar yang gue kasih dan bangkit dari kursi.
“Gue kangen sama lo, Deb.” Gue menghapus genangan air yang tumpah dari kedua matanya yang indah. Dia tidak berkata-kata apa-apa. Dia memeluk gue dengan erat.
(D. POV) Gue sangat bahagia. Dia udah sembuh sekarang. Dia udah kembali lagi. “Gue lebih kangen sama lo. Maafin gue udah sempet bikin lo kecewa. Gue sadar yang gue sayang itu lo. Bukan yang lain.” Dia membiarkan gue menangis di dada bidangnya. Sekarang gue bener-bener ngerasa seperti membuka lembaran baru. Gue merasa kembali jatuh cinta, bukan ke Geano tapi ke Brandon Nicholas, orang yang ada dihadapan gue sekarang.
(Author POV) Tidak berapa lama, hujan pun turun membasahi permukaan bumi. Disini, ditengah-tengah taman, mereka kembali. Mereka bersama lagi. Walaupun berbagai konflik menghampiri, percayalah cinta tidak akan lari kemanapun. Cinta selalu ada disetiap lintasan dibumi ini. Jadi kemanapun perginya dirimu, kamu akan tetap berjumpa kembali dengan cintamu.
Ditengah nirai hujan yang membasahi bumi.
Mereka ada disana.
Berselimut kedinginan yang melanda.
Sunset seakan enggan menunjukan diri.
Hingga malam tersirat di langit.
Bintang dan bulan kembali bersama.
Beradu pandang dan berbagi cerita.
Melepas rindu yang mengerat.

Almost (2)



(D. POV) Gue nyesel pernah berpikiran buat manfaatin dia cuma buat deketin Geano. Sekarang gue udah putus sama orang yang ternyata sayang banget sama gue dan gue pun sayang sama dia. Padahal hari ini adalah 1st anniversary gue sama dia. Gue bener-bener gak nyangka, Gira sejahat itu bocorin semua rahasia dan hancurin semua kepercayaan gue. Gue rasa, hari ini adalah hari terburuk yang pernah gue miliki!
            Gue sengaja dateng ke taman itu. Disana air mata gue tumpah melihat apa aja yang dipersiapin sama dia. Meja kecil berbalut kain putih dan ditengah meja itu ada setangkai bunga mawar bertempat disudut taman. Disekeliling meja itu, berdiri beberapa lilin dan kelopak mawarlah yang memenuhi rerumputan taman tersebut. Gue melangkah ke dekat meja itu. Gue duduk disalah satu kursi yang ada. Diatas kursi itu gue mendapati sebuah kotak kecil dengan surat diatasnya. Gue membaca surat itu. Dan terulang lagi, air mata ini tak kunjung menahan rasa tuk tumpah.
Aku tidak pernah berkeinginan untuk menyakitimu.
Tapi sepertinya, akulah yang tersakiti saat ini.
Aku berusaha untuk tidak marah padamu, tapi sesungguhnya saat itu pikiran ku sangatlah berkecamuk.
Aku tidak menghancurkan janji ku malam ini untukmu.
Aku membiarkan semua yang telah kusiapkan tetap ada.
Karena aku yakin kamu akan datang.
Tapi sepertinya kali ini bintang tidak bisa menemani bulannya.
Aku tidak bisa ada disana menemanimu sedangkan hatiku masih merasakan kesakitan.
Maafkan aku tidak ada dimalam yang seharusnya cuma milik kamu dan aku.
 Aku akan pergi.
Tapi percayalah, rasa sayang ini kan belum bisa terhapuskan hanya karna kepergianku.
Gue memandang langit. Dan bener apa yang dikatakannya. Malam ini para bintang tidak hadir disini. Yang gue dapatkan hanya bulan seorang diri. Gue membuka kotak kecil yang gue temukan tadi. Ternyata sebuah kotak musik. Dia tau gue sangat menyukai musik. Gue mendengar alunan melodi yang tersirat dari kotak kecil ini. Tiba-tiba gue sadar lalu kembali melihat surat darinya tadi. Gue membaca ulang dua kalimat terakhir, gue tertegun sesaat lalu mengambil kotak musik dan surat itu serta berlari ke depan Cafè Brightos. Gue terus melambaikan tangan berharap diantara banyaknya taksi yang lewat, akan ada satu taksi yang berhenti dihadapan gue. Ternyata yang gue harapkan tidak terjadi. Gue langsung melirik ke sebuah sepeda yang ditinggalkan pemiliknya entah kemana. Gue berusaha untuk cepat sampai kerumahnya dengan sepeda ini.
Tok tok tok. Gue mengetuk pintu rumahnya. Yang keluar Bi Srih, pembantu dirumahnya. Seperti yang gue lihat, kayaknya dia dan keluarganya gak ada dirumah ini, dan gue coba nanya ke Bi Srih.
“Non gak tau ya? Aden kecelakaan mobil non. Waktu mau ke Bogor,” Bi Srih menjelaskan semuanya dan gue bener-bener gak percaya.
“Bener Bi? Bi Srih jangan bohong ya, Bi.”
“Iya non. Aduh, ngapain sih Bibi bohong.”
“Rumah sakitnya dimana Bi?” air mata gue mulai tumpah. Hati gue tersayat. Kaki gue sepertinya gak sabar buat nunggu jawaban Bi Srih.
“Denger-denger, RS. Prudential di Jaksel non.”
“Yaudah makasih ya, Bi.”
Gue segera memberhentikan taksi yang lewat. Didalam taksi inilah gue menumpahkan seluruh air mata dari kedua manik gue yang mengalir dengan derasnya. Gue bener-bener gak mau kehilangan dia. Dia berarti buat gue. Gue sayang sama dia. Sekarang gue hanya bisa berharap banyak supaya dia gak kenapa-kenapa.
Gue sampai di rumah sakit. Gue segera menanyakan keberadaan nya sekarang pada para petugas rumah sakit. Hingga gue menemukan sebuah pintu kaca bertuliskan ICU. Gue menumpahkan segala ketakutan dan segala kesedihan gue didepan pintu itu. Menatapnya yang sedang tak berdaya dan memperjuangkan hidupnya. Seorang wanita menepuk pundak gue, gue berbalik dan menemukan mamanya yang sedang menangis.
“Tante, kenapa Brandon bisa separah ini, Tan?”
“Brandon mengalami kecelakaan sayang.”
“Tante, ini salah Debora. Debora yang buat Brandon pergi. Kalo Brandon gak pergi, gak mungkin dia jadi kayak gini.”
“Ini bukan salah kamu. Ini takdir. Takdir yang membuat semua ini terjadi.” Gue memeluk Tante Rena dengan erat. Hingga seorang dokter pun keluar dari ruangan ICU.
“Apa ada perkembangan dengan anak saya, Dok?” tanya Tante Rena.
“Sejauh ini belum ada perkembangan, Bu. Malah tambah parah. Brandon membutuhkan donoran darah untuk otaknya. Apakah disini ada yang bergolongan darah AB?”
Wajah Tante Rena berubah. Sepertinya dia bukanlah pemilik golongan darah AB. “Saya, Dok, saya AB.” Gue segera pergi ke laboratorium bersama dokter itu untuk melakukan pengecekkan. Setelah dicek, gue bisa donorin darah gue buat Brandon.
            Sekarang gue berada dalam satu ruangan dengan Brandon. Gue memandang wajah pucatnya. Gue nangis lagi ngelihat keadaannya saat ini. Apalagi semua itu karna gue. Gue janji bakal donorin darah gue sebanyak apapun, walaupun harus merenggut nyawa gue pun gue rela. Gue terlalu sayang sama dia sekarang. Gue gak ingin kehilangan dia.
Ya Tuhan.
Seandainya kesempatan itu ada.
Seandainya keajaiban itu ada.
Jangan biarkan dia pergi, jangan biarkan dia hilang.
Meninggalkanku.
Sekalipun nyawaku harus ditaruhkan baginya.
Aku rela. Bahkan sangat rela.
Biarkan malam ini,
Menjadi malam dimana bulan akan menyelamatkan bintangnya.
Bintang yang sedari tadi hilang entah kemana.
Biarkan bulan dan bintang kembali hidup bersama.
Dibawah naungan dinginnya langit malam.
Gue selesai donorin darah gue buat Brandon. Gue pun diijinkan masuk ke ruang ICU. Gue menggenggam tangan Brandon dengan erat, menangis hingga terlelap disana.
(B. POV) Perlahan kedua mata gue membuka. Semuanya putih disini. Gue mendapati seorang cewek tertidur disamping gue. Gue mengangkat wajahnya dengan pelan. Debora. Tetapi, sedetik kemudian, semuanya menjadi gelap.
(Author POV) Tante Rena masuk kedalam ruangan ICU atas izin dokter. Dia membangunkan Debora dan menyuruh pulang.
“Debora, bangun sayang. Kamu pulang ya, ini udah malem lho.”
“Eh, Tante. Yaudah, Debora pulang dulu ya. Besok Debora janji bakal dateng lagi.”
“Iya, makasih ya, Deb.”


Besoknya bahkan beberapa hari setelah itu, Debora tidak datang lagi. Tapi semua ini memiliki alasan. Mamanya di Tanggerang mendadak sakit. Kebetulan sekolah diliburkan selama 2 minggu karena ada perenovasian sekolah, jadi untuk satu minggu kedepan, dia akan tinggal di Tanggerang

Almost (1)



“Almost”
“Stars almost lost. But believe me, moon can found stars again. Because, they’re destiny.”
            (B. POV) Berawal dari pertemuan di sekolah yang sama, gue bisa kenalan sama cewek ini dan langsung suka. Emm, kata orang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi menurut gue, pada pandangan pertama itu suka, bukan cinta. Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. So, pertama kenal dia gue gak jatuh cinta tapi suka. Hingga beberapa lama setelah itu, rasa sayang mulai tumbuh. Walaupun sesungguhnya kita gak deket. Dan yang harus diketahui, dia  gak terlalu cantik. Tapi bagi gue, senyumannya yang manis banget, dan matanya yang bulat memperindah wajahnya. By the way, namanya Akanza Debora.
            Nah, hari ini gue ternyata kepilih untuk mengikuti pensi sekolah minggu depan. Gue bakal bawain Basket Dance gitu. Jadi gini, dalam Basket Dance, kita harus ngelakuin 2 hal, yang pertama, main, dan yang kedua, dance. Dan kedua hal itu harus dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Nanti akan diiringi sama team cheers juga. Dan semenjak gue terpilih, semakin banyak latihan yang dilakukan. Sampai-sampai, ajakan sepupu gue untuk jalan ke Kokas pun gue tolak, karna harus hafal koreografi-koreografi terbaru.
            Besok. Hari yang bener-bener bikin gue gugup. Gue takutnya waktu lagi dribble bola, tangan gue keseleo, atau waktu mau nge-dance, pinggang gue encok. Aduh, bisa berabeh urusan. Hanya satu yang gue sayangkan, Debora gak ikutan cheers. Dia vakum dari team cheers sejak sebulan lalu. Gue harap, semoga nanti dia bakal ikutan cheers juga.
            (Author POV) Ternyata benar-benar terjadi. Salah satu anggota team cheers, Deana, mendadak sakit. Jadi, terpaksa Debora yang menggantikannya.
            “Deb, lo boleh ambil baju Deana aja di loker. Kan lo gak bawa bajunya,” ucap Diana. Diana itu kembaran Deana.
            “Thanks ya. Eh, Na, lihat tuh si Bianca, beler banget. Kenapa ya?”
            “Bener. Bi, lo napa sih? Habis kalah arisan terus stress dan akhirnya mabuk-mabukkan ya lo?”
            “Dih, enak aja lo! Gue ngantuk keles!” ujar Bianca dan berlalu dari ruangan ganti. Diana dan Debora cuma membalasnya dengan tawa.
Go go go Dee’os go! Go go go Dee’os go!” seru team cheers sambil melenggak-lenggok kan tubuh mereka yang lentur disertai pom-pom warna-warni.
(B. POV) Akhirnya pertunjukkan selesai. Dibelakang panggung, entah disengajai atau kebetulan, gue ketemu sama Debora. Gue rasa, it’s a lucky day for me. Okay. Gue sempet nervous dan sangat-sangat nervous. Tapi gue beraniin buka pembicaraan.
            “Hei, Deb!”
            “Hei! Lo keren banget lho tadi, hehehe..,” ujar Debora.
            “Seriusan? Thanks! Mau duduk disana bareng gue?” ajak gue penuh percaya diri.
            “Mmm, okay. Gue mau.”
            Dan akhirnya gue bisa bicara cukup panjang dan cukup lama sama dia. Dan untuk hari-hari seterusnya, gue makin deket sama dia. Dan akhirnya hari itu, tanggal 25 September, tepat hari ulang tahunnya. Gue nembak dia!
            “Deb, ikut gue yuk!” Gue langsung narik tangannya, waktu acara potong kue udah selesai.
            “Kenapa?”
            “Deb, gue sayang sama lo! Lo mau jadi pacar gue?” ucap gue to the point.
            Debora masih terdiam. Dan dia mulai ngomong, “Mmmm, gue sebenarnya sayang juga sama lo, tapi... Gue mau jadi pacar lo!”
            (D. POV) Awalnya, misi gue deketin cowok itu cuma buat nyari tau dan nyari kesempatan buat bisa deket sama temennya, Geano. Geano itu cowok populer disekolah. Ya, walaupun dia bukan leader team basket, tapi dia jadi bahan perhatian banyak cewek. Gue udah suka sama dia dari kelas 10 dulu. Kembali ke pembicaraan awal, sebenarnya cuma buat deket sama Geano, tapi gue malah ngerasa jadi sayang sama cowok itu. Tapi, apapun alasannya, gue tetep pertahankan buat jalanin misi gue.
            “Deb, lo serius pengen pertahanin buat jalanin misi lo? Kasihan lho, ntar kalo lo udah dapetin Geano, lo tinggalin dia..,” ujar Gira pada gue. Gue tau ini salah, tapi yang namanya suka harus diperjuangin.
            “Iya, Na, soalnya gue belum bisa move on dari Geano, jadi gue harus bisa deket atau pacaran sama dia!” Supaya kalian tahu, inilah gue. Gue bakal pertahanin apa yang gue bilang dari awal, dan apa yang gue inginin harus terjadi.
            “Terserah lo deh, Deb.” Diana cuma bisa menghela napasnya panjang-panjang.
            (B. POV) Hari ini 1st anniversary gue sama Debora. Gak terasa, udah setahun gue sama dia ngejalin hubungan pacaran. Tapi anehnya, sejak gue pacaran sama dia, dia malah makin sering nanyain tentang Geano, teman se-team basket gue. Ya gue nanggapinnya dengan positive thinking, gue cukup yakin sama rasa sayang dia ke gue. Okey, apapun itu, nanti gue bakal buat dinner romantis, yang bahkan nantinya ngalahin Digo Sisi di sinetron GGS, HAHAHA.
            Siang ini, gue udah persiapin segala sesuatunya disebuah taman mini dekat Cafè Brightos. Tempat ini romantis banget dan gak jauh dari PIM5. Tinggal gue nunggu waktu berjalan dari siang ini, ke sore, lalu ke malam.
            “Hai, Deb. Bentar malem lo harus dateng ya ke taman mini deket Cafè Brightos dekat PIM. Gue udah persiapin sesuatu buat lo.”
            “Hah? Persiapin apa sih?”
            “Yah namanya surprise rahasia lah. Pokoknya harus dateng! Okey?”
            “Siap bos kesayangan!”
            (Author POV) Persahabatan memang harus dilandasin sama yang namanya ‘KEPERCAYAAN’. Karena persahabatan ini gak dilandasin ‘KEPERCAYAAN’, konflik datang diantara Gira dan Debora. Ini sebenarnya cuma salah paham.
            “Gue kecewa sama lo, Deb! Bukannya lo lagi ngincer si Geano? Kenapa lo malah deket-deket sama cowok gue?” ujar Gira dengan penuh kemarahan.
            “Sumpah, Gir. Gue gak ada maksud sama sekali, tadi itu, ada orang yang nabrak gue. Gue jatuh dan Leon cuma berusaha bantuin gue ke UKS!” bela Debora pada dirinya.
            “Ah peres lo! Lo denger ya, gue nyesel! Nyesel pernah deket, berbagi cerita, dan nyesel pernah kenal sama lo! Ternyata lo itu ganjen ya, semua cowok aja lo mau!” Gira berlari meninggalkan Debora yang terpaku dengan tangisan dan pembelaan diri serta Diana yang hanya mematung.
            Hari ini menjadi hari terburuk buat Debora. Hari dimana persahabatannya hancur karena cowok sialan dan karena kesalapahaman. Tapi mungkin masih bisa terobati kalau dia tahu apa kejutan spesial yang diberikan cowok nya ke dia malam ini.
            (B. POV) Hari ini kayaknya ada yang lumayan aneh. Semua anak-anak cewek disekolah ngelihatin gue dengan muka iba. Apa maksudnya coba? Dikira gue pengemis sebatang kara yang lagi nyasar?
            “Eh, Ray! Ada apa sih? Semuanya ngeliat gue gitu amat,” gue coba nanyain Ray, dia sahabat gue.
            “Gak, bro! Gak ada apa-apa!” Jawaban Ray kurang meyakinkan. Mukanya tegang seolah-olah gue bakal nelen dia bulat-bulat. Yakali gue nelen, yang ada tenggorokkan gue sobek, secara badannya gemuk banget.
            “Gue gak percaya! Pasti ada yang disembunyiin kan?”
            “Gak kok! Suer deh!”
            “Yaudah! Gue tanya yang lain.” Gue ninggalin Ray yang terus-terusan gak mau ngasih tau gue apa yang terjadi.
            Disaat gue pengen nanya ke Diana, seorang cewek ngehampirin gue dan langsung ngomong, “Kasian banget sih lo. Ganteng-ganteng malah cuma dimanfaatin!”
            “Dimanfaatin?”
            “Lo gak tau ya?” dia ngelanjutin, “Si Debora itu cuman manfaatin lo buat bisa deket sama Geano! Semua rahasia dia juga udah kebongkar sama Gira. Mending lo putusin deh si Debora. Cewek kayak gitu mah gak usah dipertahanin!” Gue sempat terpaku dan bingung mau ngomong apa. Ada dua perasaan yang muncul, masih belum percaya dan sakit hati. Itu yang gue rasain.
            “Deb, bener yang dikatain anak-anak dan Gira?” tanya gue secara langsung saat ngehampirin Debora dikelasnya. Gue mendapati dia lagi nangis. Dia masih diam. Yang terdengar disini hanya desis-desis keributan diluar dan suara isakkannya. Gue terus memaksa dia buat jujur.
            “Iya, gue emang cuma manfaatin lo buat bisa deket sama Geano. Gue emang suka banget sama Geano dari dulu. Tapi lo harus tau satu hal.....” dia diam sesaat.
            “Apa? Harus tau apa? Gue gak nyangka ya, Deb. Ternyata ini sifat asli lo,” cowok juga punya perasaan, dan sekarang gue merasakan sesuatu memukul dada gue dengan cepat, dan kesakitan yang gue rasakan sekarang.
            “Lo harus tau kalo...”
            “Yaudah ya, Deb. Gue rasa kita harus udahan.” Gue pergi meninggalkan kelas Debora dengan pikiran yang berkecamuk. Gue memang sakit hati dan kecewa, tapi gue menyesal udah putusin dia tadi dan bentak-bentak dia. 

next............